RSS

Peran dan Fungsi Guru

Menurut Undang Undang No. 20 Tahun 2003 dan Undang Undang No. 14 Tahun 2005 peran guru adalah sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pengarah, pelatih, penilai dan pengevaluasi dari peserta didik.
1). Guru Sebagai Pendidik
Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan dan identifikasi bagi para peserta didik dan lingkungannya. Oleh karena itu guru harus mempunyai standar kualitas pribadi tertentu, yang mencakup tanggungjawab, wibawa, mandiri dan disiplin.
Guru harus memahami nilai-nilai, norma moral dan sosial, serta berusaha berperilaku dan berbuat sesuai dengan nilai dan norma tersebut. Guru juga harus bertanggung jawab terhadap tindakannya dalam proses pembelajaran di sekolah.
Sebagai pendidik guru harus berani mengambil keputusan secara mandiri berkaitan dengan pembelajaran dan pembentukan kompetensi, serta bertindak sesuai dengan kondisi peserta didik dan lingkungan.
2). Guru Sebagai Pengajar
Di dalam tugasnya, guru membantu peserta didik yang sedang berkembang untuk mempelajari sesuatu yang belum diketahuinya, membentuk kompetensi dan memahami materi standar yang dipelajari. Guru sebagai pengajar, harus terus mengikuti perkembangan teknologi, sehinga apa yang disampaikan kepada peserta didik merupakan hal-hal yang uptodate dan tidak ketinggalan jaman.
Perkembangan teknologi mengubah peran guru dari pengajar yang bertugas menyampaikan materi pembelajaran menjadi fasilitator yang bertugas memberikan kemudahan belajar. Hal itu dimungkinkan karena perkembangan teknologi menimbulkan banyak buku dengan harga relatif murah dan peserta didik dapat belajar melalui internet dengan tanpa batasan waktu dan ruang, belajar melalui televisi, radio dan surat kabar yang setiap saat hadir di hadapan kita.
Derasnya arus informasi, serta cepatnya perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan telah memunculkan pertanyaan terhadap tugas guru sebagai pengajar. Masihkah guru diperlukan mengajar di depan kelas seorang diri ?, menginformasikan, menerangkan dan menjelaskan. Untuk itu guru harus senantiasa mengembangkan profesinya secara profesional, sehingga tugas dan peran guru sebagai pengajar masih tetap diperlukan sepanjang hayat.
3). Guru Sebagai Pembimbing
Guru sebagai pembimbing dapat diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan yang berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya yang bertanggungjawab. Sebagai pembimbing, guru harus merumuskan tujuan secara jelas, menetapkan waktu perjalanan, menetapkan jalan yang harus ditempuh, menggunakan petunjuk perjalanan serta menilai kelancarannya sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan peserta didik.
Sebagai pembimbing semua kegiatan yang dilakukan oleh guru harus berdasarkan kerjasama yang baik antara guru dengan peserta didik. Guru memiliki hak dan tanggungjawab dalam setiap perjalanan yang direncanakan dan dilaksanakannya.
4). Guru Sebagai Pengarah
Guru adalah seorang pengarah bagi peserta didik, bahkan bagi orang tua. Sebagai pengarah guru harus mampu mengarkan peserta didik dalam memecahkan permasalahan-permasalahan yang dihadapi, mengarahkan peserta didik dalam mengambil suatu keputusan dan menemukan jati dirinya.
Guru juga dituntut untuk mengarahkan peserta didik dalam mengembangkan potensi dirinya, sehingga peserta didik dapat membangun karakter yang baik bagi dirinya dalam menghadapi kehidupan nyata di masyarakat.
5). Guru Sebagai Pelatih
Proses pendidikan dan pembelajaran memerlukan latihan ketrampilan, baik intelektual maupun motorik, sehingga menuntut guru untuk bertindak sebagai pelatih, yang bertugas melatih peserta didik dalam pembentukan kompetensi dasar sesuai dengan potensi masing-masing peserta didik.
Pelatihan yang dilakukan, disamping harus memperhatikan kompetensi dasar dan materi standar, juga harus mampu memperhatikan perbedaan individual peserta didik dan lingkungannya. Untuk itu guru harus banyak tahu, meskipun tidak mencakup semua hal dan tidak setiap hal secara sempurna, karena hal itu tidaklah mungkin.
6). Guru Sebagai Penilai
Penilaian atau evalusi merupakan aspek pembelajaran yang paling kompleks, karena melibatkan banyak latar belakang dan hubungan, serta variabel lain yang mempunyai arti apabila berhubungan dengan konteks yang hampir tidak mungkin dapat dipisahkan dengan setiap segi penilaian. Tidak ada pembelajaran tanpa penilaian, karena penilaian merupakan proses menetapkan kualitas hasil belajar, atau proses untuk menentukan tingkat pencapaian tujuan pembelajaran peserta didik.
Sebagai suatu proses, penilaian dilaksanakan dengan prinsip-prinsip dan dengan teknik yang sesuai, mungkin tes atau non tes. Teknik apapun yang dipilih, penilaian harus dilakukan dengan prosedur yang jelas, yang meliputi tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan dan tindak lanjut.
Mengingat kompleksnya proses penilaian, maka guru perlu memiliki pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang memadai. Guru harus memahami teknik evaluasi, baik tes maupun non tes yang meliputi jenis masing-masing teknik, karakteristik, prosedur pengembangan, serta cara menentukan baik atau tidaknya ditinjau dari berbagai segi, validitas, reliabilitas, daya beda dan tingkat kesukaran soal.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ki Hajar Dewantoro Guru Idaman

Ki Hajar Dewantoro yang lahir pada 2 Mei 1899dan tiap tanggal 2 Mei kita memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), telah mengambarkan tentang sosok guru idaman nan ideal. Saya yakin kata-kata beliau tidak asing lagi di telingga kita. Menurut beliau seorang guru harus:

1. Ing Ngarso Sung Tulodho

Kunci sukses pendidikan yang pertama dan utama adalah Akhlaq. Guru benar–benar harus bisa menjadi teladan dalam berakhlaq. Anak didik kebanyakan lebih percaya dengan gurunya daripada orangtuanya, karena guru dianggap tahu segala-galanya. Untuk itu segala tingkah laku, sopan santun guru akan menjadi panutan muridnya. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.

2. Ing Madyo Mangun Karso
Kunci sukses kedua adalah Minat dan Semangat Belajar. Guru harus benar–benar menjadi penggali minat dan pemompa semangat belajar anak sehingga setiap anak mampu berpikir kritis dan belajar mandiri.
Jadi sebetulnya guru tidak perlu banyak mengajar, justru lebih perlu banyak menggagas tentang beragam bintang prestasi di langit yang perlu setiap siswa gapai.

Seorang bijak berpendapat bahwa tugas guru itu ibaratnya bercerita tentang enaknya ilmu dan membangkitkan selera anak untuk melahap ilmu tersebut. Keberhasilan tertinggi guru adalah jika mampu mengubah siswa yang mogok belajar menjadi siswa lebih pandai dari dirinya. Ini bukan tidak mungkin, karena otak anak dalam golden-age sedang otak gurunya sudah mulai telmi, waktu belajar anak lebih luas, sementara waktu belajar guru lebih terbatas, sumber belajar saat ini lebih banyak daripada sumber belajar ketika guru kuliah.

3. Tut Wuri Handayani

Kunci sukses ketiga adalah Pengasuhan dan Pengayoman. Guru harus benar–benar pengganti orang tua yang menerapkan Asah, Asih, Asuh, namun sekali lagi bukan dalam arti mengajar tapi mendidik.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Guru Idaman

Apa sih sebenarnya guru itu? Guru itu kata orang jawa dari kata digugu (dipercaya) dan ditiru (dicontoh). Anak-anak lebih percaya penjelasan gurunya dari orang tuanya, karena dimata anak-anak guru adalah orang yang paling tahu dan yang benar. Guru mejadi teladan bagi mereka. Berat sekali memang beban seorang guru itu, apalagi untuk menjadi guru yang diidamkan dan selalu menjadi uswah bagi santrinya. Seorang guru adalah pendidik bukan hanya pengajar.
Ada beberapa syarat menjadi guru idaman yang ideal, yaitu :
  1. Berpenampilan rapi. Karena guru menjadi pusat perhatian anak didiknya maka dia harus berpenampilan menarik dan rapi. Penampilan menarik tidak harus berpakaian yang serba mahal, tapi usahakan semuanya rapi mulai baju, celana, kerudung (yang perempuan), rambut, sepatu dan sebagainya. Contoh : apabila sepatu kita kekecilan akan mengganggu selama mengajar kita.
  2. Bisa mengatur suara. Guru harus mengatur suaranya agar tidak terlalu keras maupun terlalu pelan. Suara guru yang melengking keras ada mengganggu anak didik kita, begitu pula sebaliknya apabila suara kita terlalu pelan maka materi kita tidak akan tertangkap.
  3. Ekspresi wajah. Kita harus pandai mengatur ekspresi wajah kita. Jangan sampai masalah yang ada di rumah terbawa ke sekolah, terutama kesedihan. Ekspresi wajah yang ceria, tegas, atau marah harus ditempatkan pada waktu yang tepat. Guru yang terlalu banyak cengengesan juga tidak akan disegani anak didiknya.
  4. Siap Bahan ajar. Sebelum berangkat ke sekolahan kita harus sudah benar-benar siap materi yang akan kita sampaikan. Jangan sampai baru didepan kelas kita berfikir apa yang akan kita sampaikan. Jangan thinguk-thinguk didepan kelas sehingga jadi bahan tertawaan anak didik kita.
  5. Mengajar secara total. Pemberian materi yang setengah-setengah hasilnya tidak akan maksimal. Apalagi kalau hati kita tidak sedang berada dalam ruangan/tempat tersebut. Yang terjadi adalah kasihan terhadap anak-anak. Untuk itu selai harus total juga harus memakai hati.
  6. Masuk ke dunia anak.Dijenjang manapun mengajar kita harus tahu dunia anak didik kita. Semisal kita mendidik anak usia pra sekolah maka kita harus tahu bahwa dunia anak seumur itu adalah bermain. dsb.
  7. Dekat dengan orang tua murid. Hal ini untuk mengetahui perkembangan maupun kebiasaan anak didik dirumah, sehingga kita bisa mendiskusikan dan mencari solusi dengan orang tua. Apabila seorang guru tidak ada komunikasi dengan orang tua maka akan terputus informasi perkembangan anak antara dirumah dan disekolah.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cerita Guru di Mata Siswa

       Teman itu bercerita perihal mantan guru SD-nya dulu. Dia teringat masa kecil ketika itu suka iseng “mencuri” barang milik teman kelasnya. Tujuanya bukan untuk memiliki barang itu. “Sekedar merasa senang saja jika temannya kelihatan susah” lanjutnya. Gara-gara itu kepala sekolahnya “marah besar”, dan diputuskan ia hendak dikeluarkan dari sekolah itu.
        Pak gurunya, guru kelasnya, meminta kepada kepala sekolah supaya ia diampuni dan diberi kesempatan memperbaiki kesalahannya. Si guru itu mengatakan “kesalahan anak ini adalah kesalahannya juga, saya telah gagal mendidik anak ini”. Pernyataan yang sederhana guru itu telah mengubah segalannya. Hati sang kepala sekolah luluh. Marahnya padam. Ia diam, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
        Esok pagi hari berikutnya, kabar gembira diterima teman saya itu. Ia “lolos” dari pasal maut dikeluarkan dari sekolah. Sampai akhirnya, tamat juga ia dari SD itu. Teman saya itu sungguh tak bisa membayangkan, apa yang mesti dia lakukan untuk “membalas” guru yang telah “menyelamatkan” dia. Ia merasa menjadi orang beruntung.
        Suatu kali ketika sudah menjadi “orang” – ia sekarang menjadi pimpinan di salah satu bank di negeri ini – ia mengunjungi si guru itu. Dia membawakan sesuatu sebagai tanda baktinya. Sebelum pulang ia berniat memberikan sejumlah uang yang telah disiapkannya dari rumah. “Saya melakukannya kala itu bukan untuk uang nak” katanya sambil menepis pemberian uang darinya. Untuk kedua kali dibuat malu hati sahabat saya itu.
        Saya pun tertegun mendengar ceritanya. Pak guru, dengan uban putih yang telah menyelimuti kepalanya itu, tetaplah sosok yang teramat istimewa bagi teman saya itu.
Setiap dari kita mempunyai kesan dan pengalaman berbeda tentang peran dan sosok guru. Seandainya dicarikan referensi, ratusan referensi pu barangkali tak cukup mampu untuk mendeskripsikan guru ideal ini.
Standar guru “baik”?
        Kalau di koran atau pemberitaan televisi ramai dibicarakan tentang sertifikasi guru, apa hubungannya program itu dengan seorang guru yang “baik”. Melalui program itu mau mengapresiasi guru yang sudah dianggap “baik”? atau terobsesi mencari standar guru yang “baik”?
        Guru yang “baik” tidak mengenal batas di mana ia berada. Guru baik swasta dan guru baik negeri, apa bedanya?. Kuota sertifikasi guru negeri lebih banyak. Mengapa? Apa karena seolah-olah guru negeri yang “baik” kelihatan lebih banyak?. Lebih rumit mencari guru “baik” lewat program ini, tatkala fakta di lapangan berbicara bahwa program ini ternyata lebih “menggoda” guru menjadi tidak “baik”. Membuatnya beramai-ramai berlomba membuat data “aspal” agar item-item dokumen sertifikasi – prortofolio terisi lengkap. Atau, ayo ramai-ramai saling tukar jawaban saat “post test” di akhir pelatihan sertifikasi.
Ketidakhati-hatian mengatur kebijakan guru yang “baik” mudah jatuh dalam antitesisnya. Guru tergoda, guru juga manusia, menjadi tidak baik, meski mulanya sebenarnya ia “baik”.
        Berbeda dengan pendekatan struktural, yang nampak jelas dan sistematis seperti di atas, pendekatan kultural mendalilkan sesuatu yang lebih personal dan komunal.
Dengarlah suara seorang ibu yang begitu bangga dengan gurunya. “Saya dulu merasa bodoh belajar matetmatika”. Pelajaran matematika tidak pernah menarik dirinya. “Sering saya merasa takut setiap kali melihat jadwal esok pagi ada mata pelajaran matematika. Sekarang segalanya telah berbeda, saya mengajar matematika terapan di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta”. Pandangan terhadap pelajaran ini berbeda.
        Pandangannya terhadap pelajaran ini berubah. “Saya bersyukur sekali ketika di SMA saya diajar guru yang luar biasa” jelasnya dengan antusias. Dalam pandangannya tidak terlalu pandailah sebenarnya guru itu. Yang membuatnya terkesan adalah, sang guru hampir tidak pernah mengatakan muridnya bodoh. Dia selalu tersenyum ketika muridnya belum benar mengajarkan latihan. Kesabarannya sungguh dirasakannya. Guru itu tidak hanya mengajar matematika, namun juga membuat pelajaran itu mudah dipahami. Ia juga mengajar bagaimana murid “mencintai” matematika, lewat caranya mengajar.
        Guru yang “baik” seolah mengajar dan melihat anak didiknya tidak saja lewat mata pikirannya. Ia mendayagunakan keterampilan pedagogi-nya, dan melengkapinya dengan hati. Rasa cinta yang tulus telah menggetarkan hati sang anak. Si anak merasa aman, karena sang guru adalah cahaya api yang menerangi ruang kegelapan dan ketidakpastian dalam dirinya.
        Guru yang “baik” mengemuka dalam beragam wajah. Ingatlah guru favorit kita, mungkin karena ketrampilannya seorang guru mampu membuat anak-anak “tertawa” di kelas? Atau mentertawakan dirinya sendiri. Dengan itu mereka seolah melupakan ketegangan yang dialaminya seharian. Juga barangkali, karena antusiasme yang dimiliki si guru saat mengajar. Ia seolah mampu “menghipnotis” anak-anak menjadi lebih antusias dengan pelajaran yang sedang ditekuninnya.
        Wajah guru yang “baik” ternyata lebih mudah kita jumpai dalam diri para muridnya. Mereka menjadi cermin, ia memantulkan “wajah” nyata yang ada di depannya. Murid yang telah menjadi “orang” biasanya akan bercerita tentang gurunya dengan bangga, dia akan mudah berbagi pengalaman bagaimana dia di-“ubah” oleh sang guru.
        Guru yang “baik” tertunduk sedih menyaksikan muridnya gagal menjadi “orang” dalam hidupnya. Kegagalan si murid adalah andil sang guru juga. Inilah relasi “hati” guru – murid. Menjadi guru, memang berbeda dengan “bekerja” sebagai guru. Ia lebih dari itu. Ia adalah sebuah “panggilan”.
        Guru yang “baik” teramat penting dalam hidup ini. Ia lebih penting daripada sepasukan perang. Tak heran bagaimana Jepang menempatkan guru begitu istimewa. Ingatkah kita bagaimana reaksi sang Kaisar sesaat setelah kehancuran Nagasaki dan Hiroshima dalam perang dunia II. Bukan jumlah pasukan perang yang tersisa yang ditanyakannya. Sebaliknya justru ia bertanya “masih ada berapa banyak guru (“baik”) yang tersisa di sana?”. Bisa dibayangkan “perjumpaan” batin macam apa yang pernah dialami sang Kaisar itu, hingga dia mengatakan sepenggal kalimat yang begitu dalam maknanya.
        Guru yang “baik”, menurut Grosswith, R (2007), selalu belajar dengan mengajar (lewat mengajar ia mendidik) para muridnya, dan dengan mengajar sang guru memiliki kesempatan untuk terus belajar dari para muridnya, seperti ditulis dalam refleksinya berjudul “Personal Reflections on Teaching” yang dimuat di Kappa Delta Pi Record dua tahun lalu.
Nah, guru macam apa yang mau kita rindukan. Menghadirkan sosok guru yang “baik” bagi anak-anak kita, tidak mudah bukan ?(taken from http://refleksiana.wordpress.com)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Guru yang Baik Adalah Guru yang Tidak Baik

       Ada yang unik di salah satu program studi yang saya ikut mengelola, yaitu mahasiswa-mahasiswa program studi tersebut sering melontarkan komplain atas seorang dosen yang mereka anggap tidak dapat mengajar dengan baik.
Bahkan ada mahasiswa yang mengatakan bahwa indeks prestasinya rendah karena harus mengikuti kuliah sang dosen selama tiga semester.
       Namun tidak ada sama sekali mahasiswa yang mengeluhkan sistem pengajaran salah satu kolega sang dosen yang notabene juga tidak mengajar dengan baik. Hal ini diakibatkan karena di akhir semester hampir semua mahasiswa mendapatkan nilai A.
       Menurut hemat saya, mahasiswa-mahasiswa tersebut hanya melihat masalah ini dari sisi kepentingan sesaat mereka. Mungkin sangat mengherankan bagi mereka (bahkan bagi para staf pengajar lain) mengapa saya mati-matian mempertahankan agar sang dosen tetap dapat mengajar.
       Saya kembali teringat film Mandarin yang berjudul pendekar dewa mabuk yang dibintangi oleh Jackie Chan. Dalam film ini, atas perintah orangtuanya, Jackie digambarkan menjadi seorang murid dari seorang guru silat dewa mabuk yang sangat disegani. Sang murid merasa pelajaran silat tersebut sama sekali tidak menarik dan sang guru benar-benar membosankan, bahkan menjengkelkan. Contohnya, digambarkan bagaimana ia harus menimba air dengan menggunakan sendok sambil melakukan sit-up, sementara ia melihat sang guru “ngorok” sehabis mabuk.
       Tak tahan dengan sistem pendidikan ini sang murid melarikan diri. Dalam perjalanannya ia bertemu dengan tokoh penjahat utama. Singkat cerita ia dihajar habis-habisan dan dipermalukan karena terpaksa terbirit-birit dengan hanya menggunakan pakaian dalam. Di sini sang murid baru sadar bahwa ia belum memiliki cukup ilmu untuk menghadapi dunia nyata. Ia merasa harus kembali ke gurunya, meski hal ini bukan merupakan perkara mudah karena sang guru sudah terlanjur kecewa. Film ini berakhir seperti sudah diduga, dengan pengertian sang murid dan kerja keras kedua pihak, ia kemudian dapat mengalahkan tokoh kejahatan terhebat sekalipun.
       Apa yang diceritakan oleh Jackie Chan saya kira tidak ada bedanya dengan apa yang terjadi di dalam kelas pada program studi yang saya ceritakan. Sang guru yang mati-matian saya pertahankan adalah satu-satunya peneliti bertaraf internasional yang kami miliki. Tahun ini hanya beliau yang mendapatkan sekaligus dua penghargaan publikasi internasional dari universitas.
Bukannya saya menolak pendapat bahwa guru yang baik adalah guru yang dapat dengan cepat membuat murid paham bagaimana menggunakan persamaan Newton untuk menghitung kecepatan apel yang jatuh dari atas gedung. Namun untuk level universitas, guru yang baik adalah guru yang dapat melaksanakan semua poin tri-dharma perguruan tinggi. Jadi, guru ideal di sini (meski sulit sekali untuk didapatkan) adalah guru yang dapat mengajar dengan baik, yang merupakan peneliti berkelas internasional, dan yang tidak segan-segan untuk turun ke masyarakat.
       Guru yang dapat mengajar dengan baik cukup banyak ditemukan di universitas-universitas besar, namun guru yang baik sekaligus peneliti berkelas internasional sangatlah langka. Walaupun demikian, saya melihat ada beberapa staf pengajar yang masih dapat bertahan sebagai peneliti di tingkat internasional. Meski mereka bukanlah guru yang mudah difahami mahasiswa, dalam pandangan saya merekalah pendekar sakti yang diceritakan di atas. Hanya mereka yang dapat menuntun mahasiswa untuk menuju the real research.
       Saat ini riset berskala internasional sangat penting untuk mendongkrak posisi universitas-universitas kita yang sudah sangat terpuruk di tingkat Asia saja. Apalagi jika sebuah universitas telah mengikrarkan diri untuk menjadi sebuah reseach university, maka seluruh sivitas akademika harus saling bahu membahu untuk meningkatkan porsi penelitian. Tanpa riset yang sesungguhnya, universitas hanyalah sekolah lanjutan yang berani meng-klaim diri sebagai tempat mengembangkan ilmu. Sementara lulusannya sama dengan pendekar baru yang masih kurang ilmu silatnya untuk menghadapi dunia nyata. Saya sangat khawatir, jika pendekar-pendekar muda ini segera bertemu dengan penjahat yang sangat sakti, yaitu globalisasi.
       Ketika kuliah S3 dahulu, saya pernah memiliki seorang dosen yang sulit sekali difahami baik tulisan maupun ucapannya. Boleh dikatakan, saat itu saya merasakan bencana besar! Namun anehnya, beliau memiliki satu grup riset yang sangat besar dan hampir semua mahasiswa di kelas itu ingin menjadi kandidat doktor di bawah bimbingan beliau. Hal ini dapat terjadi karena saat itu beliau merupakan seorang leader dalam komunitas dunia untuk bidang yang ia geluti. Di lain pihak, seorang profesor yang sangat saya sukai kuliahnya, memiliki karakter dan nasib yang hampir bertolak belakang. Bagi saya, dia adalah seorang profesor yang sabar, bijaksana, dan dapat menjelaskan materi kuliah secara gamblang. Meski demikian, hanya beberapa kandidat doktor saja yang memilih dia.
       Suatu hari institut kami merayakan ulang tahun salah seorang pendiri institut. Saking sepuhnya, beberapa murid beliau sudah menjadi profesor-profesor senior yang hampir pensiun. Seorang di antara mereka maju ke mimbar dan menceritakan betapa ia sering tertidur dalam perkuliahan sang guru akibat monotonnya kuliah. Namun akhirnya ia menyadari betul bahwa guru yang paling tidak baik mengajarnya adalah guru terbaik baginya, karena ia terpaksa belajar sendiri untuk memahami isi kuliah sang guru. Usaha tersebut merupakan latihan pertama baginya untuk secara mandiri memahami suatu subyek ilmu, suatu hal yang kemudian ia temukan sudah mutlak dalam penelitian program doktor. Jika seorang mahasiswa tidak pernah mampu untuk belajar secara mandiri, maka ia tidak akan pernah mampu melakukan the real research, karena di sana terlalu banyak hal baru yang belum pernah dijamah manusia yang harus ia pelajari sendiri.(taken from http://netsains.com)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Seorang Guru Harus Mempunyai Etika

       Guru adalah sosok yang menjadi panutan bagi semua murid-muridnya dan peran yang melekat padanya sangat penting bagi pembentukan karakter-karakter murid-muridnya. Jika anda tertarik menjadi seorang guru, sangatlah perlu bagi anda untuk mengetahui lebih jelas tentang etika seorang guru sehingga anda dapat memahami tentang perilaku tepat yang harus dilakukan oleh seorang guru. Dengan pengetahuan tersebut, anda akan mampu menjadi seorang guru dengan pribadi yang menyenangkan dan bisa mendidik murid-muridnya dengan baik.
       Sebagai seorang guru, anda harus ikhlas dalam memberikan ilmu yang anda miliki. Dengan keikhlasan yang anda miliki, anda akan mampu mengerjakan pekerjaan ini dengan baik. Hal tersebut juga akan membawa pengaruh yang baik bagi murid-murid anda karena sikap itu akan memberikan kenyamanan pada murid-murid anda sehingga akan tercipta suasana belajar yang menyenangkan.
       Melakukan persiapan adalah etika seorang guru yang perlu anda lakukan. Persiapan ini disesuaikan dengan mata pelajaran yang anda ajarkan. Dengan persiapan yang baik, proses belajar mengajar akan berjalan dengan lancar dan anda tidak akan mendapat masalah dengan proses tersebut. Selain itu, persiapan yang baik juga akan membuat murid-murid memahami penjelasan anda dengan mudah sehingga ilmu yang anda turunkan akan berguna dan dapat diserap dengan baik.
       Bersikap fleksibel dan dinamis dalam berbagai persoalan juga merupakan salah satu etika seorang guru yang perlu anda ketahui. Dalam hal ini, anda harus bisa menerima pendapat dari murid-murid dan bersikap terbuka pada perubahan. Dengan berlapang dada menerima pendapat atau kritik, anda akan bisa menjadi manusia yang arif sehingga mampu menjadi pribadi yang lebih baik dari sekarang. Pendapat itu dimaksudkan untuk perkembangan diri. Oleh karena itu, penting untuk menerima hal itu dan menelaahnya sehingga anda mampu memperbaiki kualitas diri.
       Dalam etika seorang guru, anda diharapkan sadar dan terbebas dari doktrin-doktrin ataupun ajaran-ajaran yang buruk karena hal tersebut jika dibiarkan akan membawa dampak buruk bagi generasi muda. Doktrin tersebut bisa berubah trend gobal yang saat ini sedang populer.
Siapkah anda menjadi seorang guru? Jelas sekali bukan bahwa profesi guru bukanlah sesuatu yang mudah. Karena itu jangan pernah kita melupakan jasa guru kita.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Guru yang menginspirasi

      Seorang guru yang mampu membangkitkan semangat anak didiknya adalah guru yang luar biasa. Siswa akan bangkit dari ketakutan jika gurunya akan dengan sabar membimbingnya dengan kasih sayang.
      Seorang guru yang baik adalah guru yang dapat memberikan inspirasi untuk para muridnya. Inspirasi ini ditunjukkan para guru dengan memberikan teladan dan nasihat membangun pada anak-anak didik agar mereka belajar tanpa rasa takut jika salah dan dikatakan tidak mampu.
Guru harus bisa mengajak siswa yang merasa tidak bisa apa-apa untuk belajar menjadi bisa.(Suyanto)
      Demikian disampaikan Direktur Jenderal Departemen Pendidikan Nasional RI Suyanto saat memperingati Hari Guru Nasional di SDN II Cideng, Jakarta Pusat, Jumat (25/11/2011).
"Guru harus bisa mengajak siswa yang merasa tidak bisa apa-apa untuk belajar menjadi bisa," ujar Suyanto di hadapan kurang lebih 350 se-DKI Jakarta.
Di acara tersebut, tampak para guru datang memakai baju batik, mulai yang berwarna hitam-putih sampai coklat. Mereka tampak menikmati paduan suara dari anak-anak SDN Cideng yang menyanyikan sejumlah lagu, salah satunya "Hymne Guru".
     Motivasi, kata Suyanto, penting didapatkan anak-anak didik dari para guru. Ia meminta guru dan siswa-siswa jangan rendah diri karena sekolahnya tidak lebih besar dan lebih terkenal dari sekolah lain. Hal itu, kata dia, karena anak-anak yang berhasil di masa depan adalah anak yang diajarkan oleh orangtua dan guru-guru luar biasa, bukan bergantung dari sekolah besar dan terkenal.
"Guru profesional adalah guru yang harus bisa memberi motivasi untuk anak-anaknya. Guru tidak boleh memotivasi muridnya untuk berani mati, tapi harus memotivasi murid untuk berani menghadapi hidupnya," tutur Suyanto.
     Ia sempat menceritakan pengalamannya ketika bersekolah di Amerika Serikat. Ia mengaku, saat itu kemampuan bahasa Inggrisnya sangat kurang. Namun, salah satu dosennya memotivasi dengan mengatakan, bahwa ia akan mampu melalui semua mata kuliahnya dengan baik meskipun dengan bahasa Inggris belum fasih.
"Guru saya, dosen saya itu, mengatakan dia juga tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik seperti saya. Jadi, saya tidak perlu takut untuk belajar. Itulah motivasi dari seorang guru untuk muridnya," tuturnya.
"Obama pernah bersekolah di Indonesia tiga tahun di sini. Tiga tahun termasuk sesuatu yang sangat berarti untuk menjadikannya sebagai pribadi luar biasa. Jadi, guru harus bangga karena dapat melahirkan pribadi yang berhasil di masa depan," sambung Suyanto.
      Ia berpesan kepada generasi muda untuk tidak takut menjadi guru karena gaji guru selalu dianggap kecil. Pemerintah, kata dia, selalu berusaha memperbaiki kualitas hidup guru, terutama tunjangan, agar guru pun menikmati hasil kerja kerasnya mendidik anak bangsa.
"Pemerintah juga berupaya agar guru mendapat tunjangan lebih baik, mulai sertifikasi, perbaikan gaji, tunjungan khusus dan lain-lain," katanya.
      Pada acara ini, para guru juga disuguhkan pertunjukan marching band dari 64 pelajar SDN II Cideng. Sementara para guru mengikuti acara ramah tamah dan berkumpul bersama British Council Indonesia dan sejumlah tokoh, seperti Dik Doank dan Slamet Raharjo.(taken from kompas)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Guidelines for Designing Effective English Language Teaching Materials

Guidelines for Designing Effective English Language Teaching Materials
Aan Subekti P. (1014002)
Muh. Saeful effendi (10142019)


Abstract
There are many reasons why English language teachers may choose to construct their own teaching materials, despite the availability of commercially produced materials. This paper presents some of these reasons by examining advantages and disadvantages of teacher-produced materials. The authors also suggest factors that teachers should take into account when designing or adapting materials for diverse learners, and present a set of guidelines for designing effective materials for teaching and learning English.

Key word: English language, teaching material

Introduction
Teaching materials form an important part of most English teaching programmes. From textbooks, videotapes and pictures to the Internet, teachers rely heavily on a diverse range of materials to support their teaching and their students’ learning. However, despite the current rich array of English language teaching materials commercially available, many teachers continue to produce their own materials for classroom use. Indeed, most teachers spend considerable time finding, selecting, evaluating, adapting and making materials to use in their teaching. In this paper we synthesise a range of ideas from the literature on materials design. We consider why teachers might want to design their own teaching materials and look at some of the advantages and disadvantages. We examine six factors that teachers need to take into account when considering designing their own materials; and finally we present ten guidelines for designing effective English teaching materials.

Why English Language Teachers May Choose to Design their own Materials
Advantages
Discussions about the advantages and disadvantages of teacher-designed materials usually centre on a comparison with using text or coursebooks. Rather than focusing on coursebooks, we have turned our focus to teacher-produced materials and consider that the disadvantages of coursebooks can become advantages for teacher-produced materials. The key reasons why teachers may wish to produce their own teaching materials can be linked to four themes distilled from recent literature on this topic (e.g., Altan, 1995; Block, 1991; Harmer, 2001; Podromou, 2002; Thornbury & Meddings, 2001, 2002).
An important advantage of teacher-produced materials is contextualisation (Block, 1991). A key criticism of commercial materials, particularly those produced for the world-wide EFL market is that they are necessarily generic and not aimed at any specific group of learners or any particular cultural or educational context. The possible lack of ‘fit’ between teaching context and coursebook has been expressed thus: “Our modern coursebooks are full of speech acts and functions based on situations which most foreign-language students will never encounter… ‘Globally’ designed coursebooks have continued to be stubbornly Anglo-centric. Appealing to the world market as they do, they cannot by definition draw on local varieties of English and have not gone very far in recognising English as an international language, either.” (Altan, 1995, p. 59). For many teachers, designing or adapting their own teaching materials, enables them to take into account their particular learning environment and to overcome the lack of ‘fit’ of the coursebook.
Another aspect of context is the resources available. Some teaching contexts will be rich in resources such as coursebooks, supplementary texts, readers, computers, audio-visual equipment and consumables such as paper, pens and so on. Other contexts may be extremely impoverished, with little more than an old blackboard and a few pieces of chalk. A lack of commercial materials forces teachers to fall back on their own resources and designing their own teaching materials can enable them to make best use of the resources available in their teaching context. A further aspect that is not often mentioned in the literature is the cost of commercially produced resources. For many schools, teacher-produced materials can be the best option in terms of both school and student budget.
A second area in which teacher-designed materials are an advantage is that of individual needs. Modern teaching methodology increasingly emphasises the importance of identifying and teaching to the individual needs of learners. English language classrooms are diverse places not only in terms of where they are situated, but also in terms of the individual learners within each context. Teacher-designed materials can be responsive to the heterogeneity inherent in the classroom. This approach encompasses the learners’ first languages and cultures, their learning needs and their experiences. Few coursebooks deliberately incorporate opportunities for learners to build on the first language skills already acquired, despite research suggesting that bilingual approaches are most successful in developing second language competence (Thomas & Collier, 1997). A teacher can develop materials that incorporate elements of the learners’ first language and culture, or at least provide opportunities for acknowledgement and use alongside English. In addition, teacher-prepared materials provide the opportunity to select texts and activities at exactly the right level for particular learners, to ensure appropriate challenge and levels of success.
In designing their own materials teachers can also make decisions about the most appropriate organising principle or focus for the materials and activities. And this can be changed over the course of the programme if necessary. Most coursebooks remain organised around grammar elements and the PPP (presentation, practice, production) model of teaching, often with an “unrelenting format” which can be “deeply unengaging” (Harmer, 2001, p. 6). By taking more control over materials production, teachers can choose from the range of possibilities, including topics, situations, notions, functions, skills etc, or a combination of these principles, as starting points to develop a variety of materials that focus on the developing needs of their particular group of learners.
Personalisation is another advantage of teacher-designed materials. In his 1991 article, Block argues in favour of ‘home-made’ materials saying that they add a personal touch to teaching that students appreciate. Tapping into the interests and taking account of the learning styles of students is likely to increase motivation and engagement in learning. Podromou (2002) further suggests that there is also greater choice, freedom and scope for spontaneity when teachers develop their own materials.
A further advantage of teacher-designed materials is timeliness (Block, 1991). Teachers designing their own materials can respond to local and international events with up-to-date, relevant and high interest topics and tasks. The teachable moment can be more readily seized.
In conclusion, the advantages of teacher-designed materials can be summed up in the idea that they avoid the ‘one-size-fits-all’ approach of most commercial materials.

Disadvantages
There are a number of potential pitfalls for teachers who would be materials designers. These can be considered under three headings, the first of which is organisation. Coursebooks are usually organised around an identifiable principle and follow a discernible pattern throughout. While this can be rather dull and boring (or ‘unrelenting’) it does provide both teachers and students with some security and a “coherent body of work to remember and revise from” (Harmer, 2001, p. 7). In contrast, teacher-designed materials may lack overall coherence and a clear progression. Without some overall organising principle, materials may be piecemeal and can result in poorly focused activities lacking clear direction. This is frustrating and confusing for learners who may not be able to see how their English is developing.
A further aspect of organisation relates to the physical organisation and storage of materials. Without a clearly thought through and well-organised system, teacher-produced materials may be difficult to locate for ongoing use, or may end up damaged or with parts missing.
Possibly the most common criticism levelled against teacher-made materials is to do with their quality. At the surface level, teacher-made materials may “seem ragged and unprofessional next to those produced by professionals.” (Block, 1991, p. 212, emphasis in original). They may contain errors, be poorly constructed, lack clarity in layout and print and lack durability. Harmer probably speaks for many when he says, “If the alternative is a collection of scruffy photocopies, give me a well-produced coursebook any time.” (2001, p. 7).
In addition, a lack of experience and understanding on the part of the teacher may result in important elements being left out or inadequately covered. Teacher-made materials may be produced to take advantage of authentic text. However, if not guided by clear criteria and some experience, teachers may make inconsistent or poor choices of texts. A further problem may be a lack of clear instructions about how to make effective use of the materials – particularly instructions designed for students.
Yet another disadvantage of teacher-made materials, and perhaps the key factor inhibiting many teachers from producing their own teaching materials, is time. However passionately one may believe in the advantages of teacher-designed materials, the reality is that for many teachers, it is simply not viable – at least not all the time.
Factors to Consider When Designing Materials
We turn now to consider six key factors that teachers need to take into account when embarking on the design of teaching materials for their learners. These relate to, and refer back to some of the advantages and disadvantages. Some will also be expanded further in the guidelines which follow. The first and most important factor to be considered is the learners. If the point of teacher-created materials is relevance, interest, motivation and meeting specific individual needs, then clearly teachers must ensure they know their learners well. Any consideration of syllabus or materials design must begin with a needs analysis. This should reveal learning needs with regard to English language skills in listening, speaking, reading, writing, vocabulary knowledge and grammar; as well as individual student’s learning preferences. It is not just learning needs that are relevant to the teacher as materials designer, however. Equally important is knowledge about students’ experiences (life and educational), their first language and levels of literacy in it, their aspirations, their interests and their purposes for learning English.
The curriculum and the context are variables that will significantly impact on decisions about teaching materials. Many teachers are bound by a mandated curriculum defining the content, skills and values to be taught. Whether imposed at school or state level, a curriculum outlines the goals and objectives for the learners and the course of study. Whatever the curriculum, it is the teacher’s responsibility to ensure that the goals and objectives of the overarching curriculum are kept close at hand when designing materials (Nunan, 1988).
As noted earlier, the context in which the teaching and learning occurs will impact on the types of materials that may need to be designed. For example, a primary-level mainstream, English-speaking setting, with a set curriculum and access to native speakers may require materials that facilitate interaction about subject content, and develop cognitive academic language proficiency. However, refugee adults may need teaching materials that focus on meeting immediate survival needs and gaining employment.
The resources and facilities available to the teacher-designer are also mentioned above as an element of context. Clearly teachers must be realistic about what they can achieve in terms of materials design and production within the limitations of available resources and facilities. Access to resources such as computers (with or without Internet access), a video player and TV, radio, cassette recorder, CD player, photocopier, language lab., digital camera, whiteboard, OHP, scissors, cardboard, laminator etc will impact on decisions in materials design. Hadfield and Hadfield (2003) offer some useful suggestions for ‘resourceless’ teaching which address the impoverished reality of some teaching contexts.
Personal confidence and competence are factors that will determine an individual teacher’s willingness to embark on materials development. This will be influenced by the teacher’s level of teaching experience and his or her perceived creativity or artistic skills and overall understanding of the principles of materials design and production. In reality, most teachers undertake materials design to modify, adapt or supplement a coursebook, rather than starting from scratch, and this is probably the most realistic option for most teachers. Decisions available to teachers include the following (adapted from Harmer, 2001 and Lamie, 1999):
1.      Add activities to those already suggested
2.      Leave out activities that do not meet your learners’ needs.
3.      Replace or adapt activities or materials with:
a.     supplementary materials from other commercial texts
b.     authentic materials (newspapers, radio reports, films etc)
c.     teacher-created supplementary materials.
4.    Change the organisational structure of the activities, for example, pairs, small groups or whole class.
Modern technology provides teachers with access to tools that enable professional results in materials production. Computers with Clipart, Internet access and digital pictures offer unprecedented means for publishing high quality teaching materials. A less exciting, but nevertheless important factor to consider in designing materials is copyright compliance. Teachers need to be aware of the restrictions that copyright laws place on the copying of authentic materials, published materials and materials downloaded from the Internet for use in the classroom. This is particularly important when creating course materials that will be used by a large number of classes over time. Copyright law has implications when creating materials that include excerpts from published works. An example of this would be creating a worksheet that uses a picture or exercise from a commercial text, alongside teacher-created activities. While an idea cannot be copyright, the expression of the idea can be and teachers need to be mindful of this. Time was discussed earlier as a disadvantage for teachers who wish to design their own materials. It is thus, important to consider ways to make this aspect manageable. Block (1991) suggests a number of ways in which teachers can lighten the load, including sharing materials with other teachers, working in a team to take turns to design and produce materials, and organizing central storage so materials are available to everyone.
Guidelines for Designing Effective English Teaching Materials
Teacher designed materials may range from one-off, single use items to extensive programmes of work where the tasks and activities build on each other to create a coherent progression of skills, concepts and language items. The guidelines that follow may act as a useful framework for teachers as they navigate the range of factors and variables to develop materials for their own teaching situations. The guidelines are offered as just that – guidelines – not rules to be rigidly applied or adhered to. While not all the guidelines will be relevant or applicable in all materials design scenarios, overall they provide for coherent design and materials which enhance the learning experience.
Guideline 1: English language teaching materials should be contextualized
Firstly, the materials should be contextualised to the curriculum they are intended to address (Nunan, 1988, pp. 1–2). It is essential during the design stages that the objectives of the curriculum, syllabus or scheme within the designer’s institution are kept to the fore. This is not to suggest that materials design should be solely determined by a list of course specifications or by large inventories of vocabulary that need to be imparted, but these are certainly among the initial considerations.
Materials should also be contextualized to the experiences, realities and first languages of the learners. An important part of this involves an awareness on the part of the teacher-designer of the “socio-cultural appropriacy” (Jolly & Bolitho, 1998, p. 111) of things such as the designer’s own style of presenting material, of arranging groups, and so on. It is essential the materials designer is informed about the culture-specific learning processes of the intended learners, and for many groups this may mean adjusting the intended balance of what teachers may regard as more enjoyable activities and those of a more serious nature. Materials should link explicitly to what the learners already know, to their first languages and cultures, and very importantly, should alert learners to any areas of significant cultural difference.
In addition, materials should be contextualized to topics and themes that provide meaningful, purposeful uses for the target language. Wherever possible, these should be chosen on the basis of their relevance and appropriateness for the intended learners, to ensure personal engagement and to provide motivation for dipping further into the materials. For some ages and stages the topics may well be ‘old faithfuls’, such as money, family and holidays. Part of the mission for the materials designer is “to find new angles on those topics” (Bell & Gower, 1998, p. 123) and having done that, to develop activities which will ensure purposeful production of the target language or skills. When producing materials for one-off use with smaller groups, additional student engagement can be achieved by allowing students to ‘star’ in the passages and texts that have been designed specifically for them.
Guideline 2: Materials should stimulate interaction and be generative in terms of language
Hall (1995) states that “most people who learn to communicate fluently in a language which is not their L1 do so by spending a lot of time in situations where they have to use the language for some real communicative purpose” (p. 9). Ideally, language-teaching materials should provide situations that demand the same; situations where learners need to interact with each other regularly in a manner that reflects the type of interactions they will engage in outside of the classroom. Hall outlines three conditions he believes are necessary to stimulate real communication:
these are the need to “have something we want to communicate”, “someone to communicate with”, and, perhaps most importantly, “some interest in the outcome of the communication” (p. 9). Nunan (1988) refers to this as the “learning by doing philosophy” (p. 8), and suggests procedures such as information gap and information transfer activities, which can be used to ensure that interaction is necessary. Language learning will be maximally enhanced if materials designers are able to acknowledge the communication challenges inherent in an interactive teaching approach and address the different norms of interaction, such as preferred personal space, for example, directly within their teaching materials.
Effective learning frequently involves learners in explorations of new linguistic terrain, and interaction can often be the medium for providing the ‘stretch’ that is necessary for ongoing language development. Materials designers should ensure their materials allow sufficient scope for their learners to be ‘stretched’ at least some of the time, to build on from what is provided to generate new language, and to progress beyond surface fluency to proficiency and confidence.
Guideline 3: English language teaching materials should encourage learners to develop learning skills and strategies
It is impossible for teachers to teach their learners all the language they need to know in the short time that they are in the classroom. In addition to teaching valuable new language skills, it is essential that language teaching materials also teach their target learners how to learn, and that they help them to take advantage of language learning opportunities outside the classroom. Hall (1995) stresses the importance of providing learners with the confidence to persist in their attempts to find solutions when they have initial difficulties in communicating. To this end, strategies such as rewording and using facial expressions and body language effectively can be fine-tuned with well designed materials.
In addition, materials can provide valuable opportunities for self-evaluation by providing the necessary metalanguage and incorporating activities which encourage learners to assess their own learning and language development. This can utilise the learners’ first language as well as English. Some EFL course books, such as Ellis & Sinclair (1989), also build in exercises for students to explore their own learning styles and strategies.
Guideline 4: English language teaching materials should allow for a focus on form as well as function
Frequently, the initial motivation for designing materials stems from practitioners’ desires to make activities more communicative—often as “an antidote to the profusion of skills- based activities and artificial language use pervasive in the field of ESL instruction” (Demetrion, 1997, p. 5). Sometimes, though, in the desire to steer a wide berth around this more traditional approach, materials are developed which allow absolutely no scope for a focus on language form. The aim of Guideline 3 is to develop active, independent language learners. To help meet this goal, materials also need to encourage learners to take an analytical approach to the language in front of and around them, and to form and test their own hypotheses about how language works (Nunan, 1988). Well-designed materials can help considerably with this by alerting learners to underlying forms and by providing opportunities for regulated practice in addition to independent and creative expression.
Guideline 5: English language teaching materials should offer opportunities for integrated language use
Language teaching materials can tend to focus on one particular skill in a somewhat unnatural manner. Some courses have a major focus on productive skills, and in these reading and listening become second-rate skills. With other materials, reading or writing may dominate. Bell & Gower (1998) point out that, “at the very least we listen and speak together, and read and write together” (p. 125). Ideally, materials produced should give learners opportunities to integrate all the language skills in an authentic manner and to become competent at integrating extra-linguistic factors also.
Guideline 6: English language teaching materials should be authentic
Much space has been devoted in language teaching literature to debating the desirability (and otherwise) of using authentic materials in language teaching classrooms and, indeed, to defining exactly what constitutes genuine versus simulated texts (e.g., Harmer, 1998; Hedge, 2000; Nunan, 1988, 1991). It is the authors’ view that it is imperative for second language learners to be regularly exposed in the classroom to real, unscripted language—to passages that have not been produced specifically for language learning purposes. As Nunan points out, “texts written specifically for the classroom generally distort the language in some way” (1988, p. 6).
When the aim for authenticity in terms of the texts presented to learners is discussed, a common tendency is to immediately think of written material such as newspapers and magazines. Materials designers should also aim for authentic spoken and visual texts. Learners need to hear, see and read the way native speakers communicate with each other naturally.
Arguably more important than the provision of authentic texts, is authenticity in terms of the tasks which students are required to perform with them. Consideration of the types of real- world tasks specific groups of learners commonly need to perform will allow designers to generate materials where both the texts and the things learners are required to do with them reflect the language and behaviours required of them in the world outside the classroom.
Guideline 7: English language teaching materials should link to each other to develop a progression of skills, understandings and language items
One potential pitfall for teacher-designed materials mentioned in the first part of this article relates to the organisation within and between individual tasks. There is a very real danger with self-designed and adapted materials that the result can be a hotchpotch of unconnected activities. Clearly stated objectives at the outset of the design process will help ensure that the resultant materials have coherence, and that they clearly progress specific learning goals while also giving opportunities for repetition and reinforcement of earlier learning.
Guideline 8: English language teaching materials should be attractive
Criteria for evaluating English language teaching materials and course books frequently include reference to the ‘look’ and the ‘feel’ of the product (see, for example, Harmer, 1998; Nunan, 1991). Some aspects of these criteria that are particularly pertinent to materials designers are discussed below.
Physical appearance: Initial impressions can be as important in the language classroom as they are in many other aspects of life. Put simply, language-teaching materials should be good to look at! Factors to consider include the density of the text on the page, the type size, and the cohesiveness and consistency of the layout.
User-friendliness: Materials should also be attractive in terms of their ‘usability’. Some simple examples: if the activity is a gap-fill exercise, is there enough space for learners to handwrite their responses? If an oral response is required during a tape or video exercise, is the silence long enough to allow for both thinking and responding?
Durabilty: If materials need to be used more than once, or if they are to be used by many different students, consideration needs to be given to how they can be made robust enough to last the required distance.
Ability to be reproduced: Language teaching institutions are not renowned for giving their staff unlimited access to colour copying facilities, yet many do-it-yourself materials designers continue to produce eye-catching multi-coloured originals, and suffer frustration and disappointment when what emerges from the photocopier is a class-set of grey blurs.
Guideline 9: English language teaching materials should have appropriate instructions
This guideline applies as much to the instructions that are provided for other teachers who may use the materials, as it does for the intended learners. It seems to be stating the obvious to say that instructions should be clear, but, often, excellent materials fail in their “pedagogical realisation” (Jolly & Bolitho, 1998, p. 93) because of a lack of clarity in their instructions. For instructions to be effective, they should be written in language that is appropriate for the target learners, and the use of the correct metalanguage can assist with making instructions more concise and efficient.
Guideline 10: English language teaching materials should be flexible
This final guideline is directed primarily at longer series of materials rather than at one- off tasks, but has pertinence to both. Prabhu (cited in Cook, c. 1998) maintains that much of a student’s language learning is “mediated by the materials and course books the teacher uses in terms of both language content and teaching technique” (p. 3). He proposes constructing materials that allow teachers and students to make choices—at least some of the time. He suggests the materials designer may offer flexibility in terms of content by providing “a range of possible inputs . . . [that] are not themselves organised into lesson units” (cited in Maley, 1998, p. 284), and that teachers or, indeed, students, could then choose which of these to use and which “procedure” (e.g. comprehension exercise, grammar awareness exercise, role play, etc) to apply to them. Maley (2003) takes this idea a stage further, acknowledging the benefits of diversity in the areas of content, roles and procedures for both teachers and students, and proposing that flexibility is also possible in approach, level, methodology, logistics, technology, teaching style, evaluation procedures and expected outcomes. He concludes with this challenge for materials designers: “Those involved . . . could greatly extend and diversify the range of what is offered to students with relatively little effort. Will they make that effort?” (p. 7).


Conclusion
In the end, teachers must weigh up the benefits and costs of designing their own teaching materials and make their own decision as to whether it is worth the time and effort. As Harmer (2001) puts it, “The good DIY teacher, with time on his or her hands, with unlimited resources, and the confidence to marshal those resources into a clear and coherent language program, is probably about as good as it gets for the average language learner” (p. 9) Inevitably there will be numerous constraints on any materials designer and compromises will be necessary. Materials that satisfy the guidelines proposed, though, could make the difference between a class of diverse learners in an excited “state of ‘expectancy’ (What will happen this time?) rather than ‘expectation’ (Oh, not that again!)” (Maley, 2003, p. 2). A tantalizing proposition!







References


Altan, M. Z. (1995). Culture in EFL contexts: Classroom and coursebooks. MET, 4(2), 58–60.

Bell, J., & Gower, R. (1998). Writing course materials for the world: A great compromise. In B. Tomlinson (Ed.), Materials development in language teaching (pp. 116–129). Cambridge: Language Teaching Library, Cambridge University Press.

Block, D. (1991). Some thoughts on DIY materials design. ELT Journal, 45(3), 211–217.

Cook, V. (c. 1998). Spreading the influence of SLA research. Retrieved 29 January 2004 from http://privatewww.essex.ac.uk/~vcook/OBS6.htm 

Ellis, G., & Sinclair, B. (1989). Learning to learn English. Cambridge: Cambridge University Press.

Hadfield, C., & Hadfield, J. (2003). Hidden resources in the language classroom: Teaching with (next to) nothing. MET, 12(1), 5-10.

Hall, D. (1995). Materials production: Theory and practice. In A. C. Hidalgo, D. Hall, & G. M. Jacobs (Eds.), Getting started: Materials writers on materials writing (pp. 8–14). Singapore: SEAMO Regional Language Centre.

Harmer, J. (1998). How to teach: English. Harlow, Essex: Pearson Educational Ltd.

Harmer, J. (2001). Coursebooks. A human, cultural and linguistic disaster? MET, 8(4), 5–10.

Hedge, T. (2000). Teaching and learning in the language classroom. Oxford: Oxford University Press.

Jolly, D., & Bolitho, R. (1998). A framework for materials writing. In B. Tomlinson (Ed.), Materials  development in language teaching (pp. 90–115). Cambridge: Cambridge Language Teaching Library, Cambridge University Press.

Lamie, J. (1999). Prescriptions and cures: Adapting and supplementing. MET, 8(3), 49-53.

Maley, A. (1998). Squaring the circle: Reconciling materials as constraints with materials as empowerment. In B. Tomlinson (Ed.), Materials development in language teaching (pp. 279–294). Cambridge: Cambridge Language Teaching Library, Cambridge University Press.

Maley, A. (2003). The dividends from diversity. Retrieved 29 January 2004 from http://iele.au.edu/resources/articles/Dividends_from_ Diversity.pdf  

Nunan, D. (1988). Principles for designing language teaching materials. Guidelines, 10(2), 1–24

Nunan, D. (1991). Language teaching methodology: A textbook for teachers. Hertfordshire: Phoenix ELT.

Podromou, L. (2002). The great ELT textbook debate. MET, 11(4), 25–33.

Thornbury, S., & Meddings, L. (2001). Coursebooks: The roaring in the chimney. MET, 8(4), 11–13.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS